Tugas Siswa Dikerjakan Pakai AI? Ini Cara Guru Menyikapinya
Tugasnya rapi sekali, kalimatnya runtut, tapi waktu ditanya di kelas, siswanya bingung sendiri. Banyak guru sekarang mengalami situasi ini sejak ChatGPT dan aplikasi AI lain mudah diakses dari HP.
Melarang AI sepenuhnya hampir mustahil diawasi. Lagi pula, siswa akan bertemu AI di dunia kerja nanti. Yang bisa dilakukan guru adalah mengubah cara memberi dan menilai tugas, sehingga pemahaman tetap terlihat.
1. Nilai prosesnya, bukan hanya hasil akhirnya
AI pandai menghasilkan jawaban akhir, tapi siswa yang tidak paham akan kesulitan menjelaskan prosesnya. Minta siswa menuliskan:
- Langkah-langkah yang mereka tempuh.
- Alasan memilih cara tersebut.
- Bagian yang paling sulit dan bagaimana mereka mengatasinya.
Beri bobot nilai untuk proses ini. Siswa yang memakai AI tanpa berpikir akan terlihat dari penjelasannya yang dangkal.
2. Tambahkan tanya jawab singkat di kelas
Dua menit tanya jawab sudah cukup untuk tahu siapa yang benar-benar paham. Misalnya, minta siswa menjelaskan satu bagian tugasnya dengan kata-kata sendiri, atau mengerjakan soal serupa di tempat. Kuis singkat di awal pelajaran tentang materi tugas sebelumnya juga efektif.
3. Ajarkan AI sebagai teman diskusi, bukan tukang jawab
Daripada pura-pura AI tidak ada, ajarkan cara memakainya dengan benar:
- Boleh bertanya ke AI untuk memahami konsep yang belum jelas.
- Boleh meminta AI memberi contoh soal latihan.
- Tidak boleh menyalin jawaban akhir tanpa memahami.
- Wajib memeriksa ulang, karena AI bisa salah dengan sangat meyakinkan.
Sepakati aturan ini bersama siswa dan tuliskan. Aturan yang jelas lebih mudah ditegakkan daripada larangan umum.
Ubah bentuk tugasnya
Beberapa jenis tugas lebih tahan terhadap AI: tugas yang terkait pengalaman pribadi siswa, pengamatan di lingkungan sekitar, presentasi lisan, atau proyek yang dikerjakan bertahap di kelas.
Cek pemahaman langsung dengan Duel Kelas
Kuis langsung di kelas adalah cara paling cepat melihat siapa yang paham. Di Pedatech, Duel Kelas memungkinkan dua siswa bertanding menjawab soal di satu laptop guru, tanpa HP siswa. Baca juga: aturan HP di kelas: dilarang total atau disepakati bersama?